Sabtu, 07 November 2009

Rumah Makan Ibu Hj. Kokom


Anda salah satu penggemar ayam goreng? Tampaknya, Anda harus mengunjungi salah satu wisata kuliner ini. Disini Anda akan merasakan ayam goreng yang nikmat, gurih dan renyah serta makanan lainnya yang menggugah selera. Ditambah dengan suasana tempat yang alami, santai dan nyaman, pasti akan menambah kenikmatan sajian yang disediakan. Rumah Makan Ibu Hj. Kokom yang terletak di Jl. KH. Hasyim Ashari No.20 Cipondoh, Kota Tangerang dapat menjadi pilihan wisata kuliner Anda untuk bersantap bersama kerabat atau keluarga.

Rumah makan yang berada di pertigaan menuju perumahan Poris selalu ramai oleh pengunjung. Di depan rumah makan ini, Anda dapat melihat deretan mobil yang terparkir dan kesibukan dari tukang parkir yang berusaha menertibkan kendaraan. Bila dilihat dari depan, rumah makan ini layaknya seperti rumah makan biasa, rumah makan dengan tembok dan kursi plastik. Tapi saat Anda masuk ke rumah makan, ternyata masih ada halaman belakang yang sangat luas. Di halaman belakang inilah yang menjadi tempat favorit untuk menyantap menu yang ada.

Pada halaman belakang, tempat makan dibuat berupa saung-saung atau pondok dengan dinding bambu dan atap daun yang membentuk ruangan-ruangan. Suasana disini terasa sejuk karena adanya pohon-pohon yang ditanam di jalan-jalan di antara saung-saung. Besarnya saung berbeda-beda, mulai untuk 4 orang saja sampai ada saung yang bisa untuk 12 orang atau lebih. Agar semakin sederhana, sebagian besar saung tidak disediakan kursi alias Anda bisa makan sambil lesehan. Tetapi, bila lebih suka duduk di atas kursi, ada juga saung yang terdapat kursi di dalamnya. Dengan dinding hanya setinggi lutut, Anda akan merasakan hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Anda juga dapat memandang danau yang ada di sebelah tempat ini, bila Anda duduk di saung yang ada di bagian belakang. Rumah makan ini terletak persis di tepi Situ Cipondoh yang juga dimanfaatkan sebagai tempat wisata bagi masyarakat sekitar.

Tidak hanya suasana yang ditawarkan oleh pemilik untuk pengunjungnya. Makanan tradisional sederhana dan alami inilah yang juga ditawarkan oleh pemiliknya. Menu bergaya Sunda dan Betawi sangat cocok bagi lidah para pengunjung. Sebagai pilihan, Anda dapat memesan sayur asam, tempe, tahu, pepes, ikan gurame, karedok, ayam bakar atau ayam goreng kuning yang menjadi menu favorit. Hal ini tidak mengherankan, karena ayam goreng yang digunakan merupakan ayam kampung dengan bumbu kuning yang meresap dengan daging ayam dan bumbu yang renyah. Apalagi ditambah sambal terasi, sayur asam dan pete,dan tentu saja lalapan, pasti Anda bisa ketagihan dibuatnya.

Sambil menunggu menu utama, Anda dapat memesan otak-otak atau tahu sumedang sebagai makanan pembuka. Sedangkan untuk minuman, ada teh, soft drink, es jeruk atau kelapa muda. Semua dapat Anda nikmati tanpa perlu kuatir kantong Anda akan jebol dibuatnya, karena semua ditawarkan dengan harga terjangkau.

Anda juga harus berlatih kesabaran, bila Anda mengunjungi tempat ini saat jam makan siang atau akhir pekan. Tempat ini biasanya akan penuh oleh pengunjung dan untuk dapat makan di saung, Anda harus rela menunggu di depan saung yang masih ditempati pengunjung lain agar dapat segera ditempati setelah selesai. Begitu juga sebaliknya, Anda harus rela dan bertenggang rasa bila saat Anda makan, akan ada pengunjung lain yang berdiri menunggu saung kosong selesai Anda bersantap. Semua ini karena kombinasi dari makanan, harga dan suasana yang dihadirkan menjadikannya selalu dipenuhi para penikmatnya.


Rumah Makan Ibu Hj. Kokom
Jl. KH. Hasyim Ashari No.20
Cipondoh
Kota Tangerang
Banten

Sumber :
http://kumpulan.info/kuliner/wisata-kuliner/34-wisata-kuliner/106-rumah-makan-ibu-hj-kokom.html
6 November 2008

Mengembangkan Usaha Rumah Makan Kecil-kecilan

Saya mempunyai usaha rumah makan kecil-kecilan. Saya sudah menjalankan usaha ini selama kurang lebih 8 tahun tapi menurut saya hasilnya belum maksimal. Income yang saya dapatkan setiap hari sebenarnya masih bisa ditingkatkan. Saya yakin masakan kami juga tidak kalah dengan rumah makan lainnya. Suasananya nyaman dan bersih. Saya sudah coba untuk banting harga, tetapi juga belum maksimal. Menurut Pak Andrew, apa yang harus saya lakukan? Mohon saran Bapak.

Terima kasih.

Rudy

Pak Rudy dan pembaca kompasiana.com, sekedar memiliki rumah makan yang menyajikan masakan yang enak, harga yang terjangkau dan suasana yang nyaman dan bersih belum tentu akan menjadi tempat makan favorit. Pertahankan apa yang telah Anda lakukan selama ini, seperti memasak makan yang lezat serta tempat yang nyaman dan bersih. Namun ada beberapa hal lain yang mungkin terlupakan selama ini, yaitu:

Pertama, Anda perlu beriklan, baik di media cetak atau elektronik ataupun dengan memasang spanduk dan menyebarkan brosur-brosur. Dengan melakukan hal ini, tentunya orang yang tidak tahu dengan rumah makan Anda akan mulai tahu. Yang sudah tahu tapi mungkin lupa atau jarang mengunjungi rumah makan Anda, akan mulai ingat kembali dan mungkin saja mereka akan menyempatkan berkunjung ke rumah makan Anda lagi.

Kedua, dalam iklan yang Anda buat, sedapat mungkin menonjolkan makanan unggulan dan unik yang Anda biasa sajikan. Sebisa mungkin jenis makanan tersebut tidak dimiliki oleh rumah makan lain. Atau jika Anda mempunyai jenis makanan yang sama, mungkin Anda bisa menampilkan nama yang berbeda atau dekorasi makanan yang berbeda.

Ketiga, buatlah program-program promosi. Misalnya, Anda memberi diskon khusus dihari-hari atau jam-jam tertentu. Sedapat mungkin promosi yang Anda lakukan bukan promosi setengah hati, tetapi promosi yang cukup fantastis sehingga orang menjadi tertarik untuk mengambil bagian dalam promosi tersebut. Bisa juga program membership atau reward point, seperti setiap belanja nilai tertentu mendapatkan hadiah. Atau misalnya pembelian kedua akan mendapatkan diskon 50%. Ada banyak cara melakukan program promosi.

Keempat, sponsorilah event-event atau kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya, jika ada acara dari perkumpulan ataukah pertandingan, atau acara dari sekolah atau kampus, atau acara apa saja yang pengunjungnya juga merupakan target market atau orang yang bisa membeli dari rumah makan Anda, berilah diskon 50% namun Anda minta agar spanduk rumah makan Anda dipasang di lokasi acara mereka. Atau jika mereka mempublikasikan acaranya melalui media, mintalah agar logo rumah makan Anda terpasang di media publikasi tersebut. Dengan begitu, lebih banyak orang akan mengetahui rumah makan Anda. Jadi, lebih banyak orang tahu, maka kemungkinan orang yang akan berkunjung ke rumah makan Anda akan semakin banyak.

Mudah-mudahan jawaban saya bisa memberi inspirasi buat Pak Rudy dan pembaca kompasiana.com lainnya.

Akhirnya, tetap semangat dan jangan pernah menyerah karena apapun yang terjadi selalu ada jalan keluarnya. Ingat, kita tidak dilahirkan sebagai orang gagal, tetapi sebagai pemenang.

Andrew Nugraha

Tanggapan Tulisan

Sumber :
Andrew Nugraha
http://ekonomi.kompasiana.com/2009/10/30/mengembangkan-usaha-rumah-makan-kecil-kecilan/
30 Oktober 2009

Drs. H. Kadar Bintara, M.Pd., Bisnis Rumah Makan

PENSIUN masih tujuh tahun lagi, namun persiapan sudah dilakukan dari sekarang. "Saya sedang mencoba bisnis rumah makan. Sebelum pensiun, harus ada pengalaman di bidang lain," ujar Drs. H. Kadar Bintara, M.Pd., sambil tersenyum.

Mantan pemain Persib dan Tim Nasional Sepak Bola Mahasiswa Indonesia peraih Medali Emas POM ASEAN ini mengaku, dia baru menggeluti bisnis rumah makan makanan khas Sunda sejak sebulan terakhir. "Ya, sambil belajar usaha lah. Saya juga melihat, prospek rumah makan, terutama khas Sunda di Bandung, cukup bagus," ujar Kadar.

Menurut Kadar, walau baru sebulan, pelanggan rumah makannya sudah cukup banyak. "Sekarang ini kan sedang ramai-ramainya wisata kuliner. Jadi, setiap hari cukup banyak pelanggan yang datang ke rumah makan," kata staf Dinas Olah Raga dan Pemuda Provinsi Jawa Barat ini.

Kadar menambahkan, beberapa waktu lalu dia membeli royalti dari salah satu rumah makan di Nagrak, Purwakarta. "Saya kemudian mendirikan rumah makan dengan nama yang sama di Jalan Terusan Jakarta, Antapani," ujar suami dari Sukawati.

Kadar diwajibkan membayar royalti berdasarkan omzet selama sebulan. "Ya, royaltinya sekian persen bagi yang punya merek. Untuk makanan, kita datangkan tukang masak dari pemilik merek rumah makan. Kita magangkan juga karyawan kita. Setelah sekian lama baru bisa dilepas sendiri. Namun, kita tetap memberikan royalti selama masih menggunakan merek rumah makan tersebut," kata Kadar yang dilahirkan di Bandung pada 13 April 1960.

Kadar berharap, bisnis rumah makan bisa menjadi andalan baginya ketika memasuki usia pensiun sekaligus menjadi bekal untuk ketiga putrinya yaitu Ghaida Azzahra (18), Salsabil Ghassani (13), dan Jauza Mumtaz (8). (Asep/"PR")***

Sumber :
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=85423
7 November 2009

Evaluasi Kelayakan Bisnis Rumah Makan Saboten Shokudo

Saat ini kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan akan kebutuhan makan. Selama manusia itu hidup, maka pasti akan butuh makan. Tetapi pada saat ini pola hidup masyarakat mulai bergeser, yaitu makan di rumah makan bersama keluarga atau relasi menjadi sebuah kebutuhan. Begitu pula di kota Malang, sebagai salah satu kota pelajar, dimana mahasiswa merupakan salah satu elemen masyarakat. Kebanyakan mahasiswa adalah perantauan, dimana mereka tinggal sendiri atau kos. Mahasiswa yang kos kebanyakan makan di luar rumah, tujuan mereka adalah warung atau rumah makan.

Dari hasil survey yang dilakukan dengan cara menyebarkan kuisioner dan wawancara kepada mahasiswa di kota Malang, sebagian bsar mereka selalu makan di rumah makan, karena memang di tempat tinggal mereka atau kos tidak ada yang menyediakan makanan.
Berdasarkan hal itu, rumah makan Saboten Shokudo yang menspesialisasikan di bidang masakan Jepang, membidik mahasiswa sebagai pasar utama mereka. Berdasarkan pengamatan, masakan Jepang selalu diasumsikan sebagai makanan ekslusif yang sudah tentu harganya mahal. Tetapi memang belum ada di kota Malang, rumah makan masakan Jepang yang harganya murah atau terjangkau oleh mahasiswa. Sehingga rumah makan Saboten shokudo adalah rumah makan pertama yang membawa konsep masakan Jepang dengan harga yang sangat terjangkau oleh mahasiswa di kota Malang.

Pengumpulan data pada aspek pasar dilakukan melalui survey dengan cara menyebar instrument penelitian berupa kuisioner untuk mengetahui profil dan minat calon konsumen terhadap rumah makan Saboten Shokudo. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik convenience sampling. Untuk pengujian dari aspek teknis dan keuangan digunakan data sekunder yang diperoleh dari rumah makan Saboten Shokudo.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasar potensial untuk rumah makan Saboten Shokudo 81,6%, yang diperoleh berdasarkan pada tingkat keminatan responden terhadap produk rumah makan Saboten Shokudo. Untuk pasar tersedia didasarkan pada variabel tingkat kemampuan, daya beli terhadap produk rumah makan Saboten Shokudo, yakni sebesar 87,25 % dan untuk pasar sasaran adalah 11%. Selain itu dihasilkan juga peramalan demand rumah makan Saboten Shokudo untuk 5 tahun (20 triwulan) kedepan. Sedangkan hasil penelitian dari aspek teknis adalah dibuatnya rancangan berdasarkan estimasi demand rumah makan Saboten Shokudo. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan menurut parameter penilaian investasi, maka rumah makan Saboten Shokudo ini layak direalisasikan dengan nilai NPV Rp. 30.188.510, IRR 28% dan PBP 3,79 tahun.

Sumber :
IMADUDDIN ASHARI
http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?option=com_repository&Itemid=34&task=detail&nim=112030063

Jurus Antirugi Buka Usaha Rumah Makan

Jangan punya anggapan mengelola rumah makan itu gampang. Usaha ini juga termasuk berisiko tinggi dan rumit. Hengky Eko (Cak Eko), pendiri jaringan franchise Bakso Malang Kota “Cak Eko” yang kini memiliki lebih dari 70 gerai, menawarkan resep jitunya di buku "15 Jurus Antirugi Buka Usaha Rumah Makan".

Menurut Cak Eko, bisnis rumah makan bukanlah bisnis yang sederhana. “Sebenarnya mengelola bisnis jenis ini sangat kompleks dengan berbagai permasalahan baik yang bersifat teknis maupun nonteknis,” ujar Cak Eko dalam bukunya. Problematika yang harus dihadapi pebisnis rumah makan, katanya, lebih tinggi jika dibandingkan usaha di bidang lain. Karena itu, "Bisnis rumah makan juga termasuk bisnis yang memiliki risiko tinggi,” ujarnya.

Namun di samping sisi yang memiriskan itu, bisnis rumah makan merupakan bisnis yang menjanjikan keuntungan yang besar. Marjinnya bisa 50% hingga 100%, kata Cak Eko. Keuntungan besar ini sudah bukan rahasia lagi. Karena itu bisnis ini selalu dipadati pelaku. Ibaratnya, mati satu tumbuh seribu. Lalu bagaimana supaya menjalankan bisnis ini tak terjerumus ke jurang kebangkrutan? Untuk itulah Cak Eko menulis buku ini. Judulnya saja sudah menggambarkan apa yang ingin diinformasikannya: 15 Jurus Antirugi Buka Usaha Rumah Makan.

Salah satu dari 15 jurus itu adalah promosi. Cak Eko menyorot soal pentingnya peran media massa menulis profil bisnisnya. Ini memang berkaca dari pengalamannya dengan media. Boleh dibilang, hampir semua media yang berhubungan dengan dunia kewirausahaan pernah menulis tentang bisnis Cak Eko. Bahkan media televisi pun menayangkan profilnya. Pendeknya, makin banyak media yang menuliskan bisnisnya, bisnisnya pun berkembang dengan pesat. Jumlah gerai yang lebih dari 70 saat ini jadi buktinya. (Den Setiawan, den.setiawan@yahoo.co.id )

Sumber :
http://www.majalahduit.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=201:jurus-antiruga-buka-usaha-rumah-makan&catid=40:cat-makanan&Itemid=57
7 April 2009

Rumah Makan=Makan di Rumah

Rumah makan Sedap Makan (SM) di bilangan Ragunan bisa bertahan sampai tiga generasi. Kuncinya sederhana: buatlah orang-orang makan di rumah makan seperti makan di rumah. Sukatna

Judul tersebut bukanlah hanya suatu susunan kalimat yang dibolak-balik, melainkan ruh utama dari strategi manajemen Rumah Makan Sedap Makan (SM). Dengan prinsip sederhana tersebut SM mampu bertahan dan kini dikelola oleh generasi ketiga. Hampir dipastikan semua tokoh terkenal dan selebritas Indonesia pernah menyambangi rumah makan ini, dan beberapa di antaranya tercatat sebagai pelanggan.
Pengelola SM, Sagi Ardhan, menguraikan lebih lanjut tentang prinsip sederhana itu. Prinsip makan di rumah adalah higinis, bergizi, enak rasanya, nyaman suasananya sekaligus murah. Prinsip itu terus dipertahankan dari sejak rumah makan berdiri hingga kini.

Boleh saja Heraclitus mengatakan, “di dunia ini segalanya selalu berubah kecuali perubahan itu sendiri.” Tetapi banyak para pelaku bisnis yang memegang teguh prinsip-prinsipnya dari sejak awal bisnis digelindingkan hingga kini. Itu juga yang dilakukan pengelola SM.

Dalam soal bumbu dan cara mengolah makananya pun, kata Sagi, SM tidak mau berkompromi. “Kalau suatu masakan membutuhkan bumbu sepuluh genggam ya harus sepuluh genggam. Kalau membutuhkan waktu pemasakan satu jam ya satu jam, tidak boleh dikurang-kurangi,” tegas Sagi. Itu sebabnya Sagi menjamin rasa masakan di SM tidak pernah berubah dari dulu hingga kini, sekalipun nakhoda rumah makan milik lima bersaudara keturunan Hajah Suntiwati-Haji Muhammad ini pernah berganti berkali-kali.
Kesetiaan SM, menurut Sagi, bukan hanya kepada prinsip dan tata cara pengolahan makanan melainkan juga jenis menunya. “Dari dulu hingga sekarang kami dengan setia hanya menyajikan ayam panggang,” tuturnya. Dalam strategi bisnis modern seperti yang dituliskan oleh Jim Collins dalam Good to Great, apa yang diterapkan SM ini, merupakan Hedgehog Concept (teori landak).

Saat ini kebanyakan bisnis makanan berlomba untuk menyajikan beragam menu (teori rubah) tetapi tidak memiliki menu inti yang unik. Nah SM menyadari kekuatan utamanya adalah di menu ayam panggang bumbu rujak. “Kalau ingin mendapatkan menu ayam panggang yang paling enak di Jakarta mungkin Bapak tidak salah datang kemari,” ujar pembalap gokart yang berkali-kali menyabet juara satu untuk lingkup nasional ini sembari sedikit berpromosi.

Dengan menu panggang ayam, SM pada era 1992-1997, menjadi pilihan utama karyawan perkantoran-perkantoran elit di Jalan Jenderal Sudirman. “Pada waktu itu trafik dari Sudirman ke sini masih enak Kalau sekarang langganan kami adalah karyawan perkantoran yang radiusnya antara dua-sampai lima kilometer saja, seperti karyawan perakitan sepeda motor Honda, Yamaha dan Kawasai,” tutur Sagi. “Pada zaman keemasan dulu saya tidak bisa menghitung berapa jumlah pengunjung tetapi para pelanggan harus berjalan miring-miring saking penuhnya.” Padahal luas secara keseluruhan SM mencapai 2315 M2. Alasan kepindahan SM dari Jalan Cilandak KKO ke bilangan Ragunan pun juga disebabkan karena tempat yang lama sudah tidak mampu menampung lagi jumlah pelanggan yang datang.

Selain itu, sebutnya, SM juga sering dijadikan tempat untuk makan dalam pembentukan panitia acara suatu perusahaan, atau tempat merayakan kenaikan pangkat seorang pegawai. Pada saat ditemui beberapa waktu lalu, SM dipenuhi oleh peserta buka puasa sebuah partai politik dan sebuah perusahaan operator telepon seluler.
“Tetapi jarang perusahaan yang menjadikan tempat kami sebagai ajang untuk perayaan yang sifatnya fun, karena kami tidak menyediakan minuman beralkohol atau sejenisnya,” ucap Sagi seraya mengimbuhkan beberapa kali dirinya pernah menggelar acara nonton bareng MotoGP di SM, karena dirinya hobi otomotif.

Dikatakan Sagi, dari dulu hingga kini pengelola RMSM tidak pernah melakukan promosi. Semua pelanggan tahu karena direkomendasikan pelanggan yang lain. Artinya, promosinya berlangsung dari mulut ke mulut. Meski promosinya hanya dari mulut ke mulut, tetapi menurut Sagi, hampir semua orang penting di negeri ini pernah mampir dan menyantap menu di RMSM.
Sagi mengaku pernah mencoba untuk membawa SM ke kancah otomotif. Namun, menurutnya, motif utamanya bukan bisnis. “Prinsipnya kami ingin membuat orang lain senang. Sedangkan saya hobi otomotif maka saya ingin teman-teman bisa mendapatkan makanan yang murah tetapi enak dan tidak usah pergi jauh-jauh. Kalau mereka senang, kami pun senang,” imbuhnya filosofis.

Keberadaan RM SM sendiri saat ini, menurut Sagi, merupakan satu monumen bagi keluarga besar keturunan Hajah Suntiwati-Hajah Muhammad. Selain itu rumah makan itu juga dimaksudkan sebagai tempat “sekolahnya” anak dan cucu sang pendiri.

“Kebetulan sepupu saya sudah menggeluti profesi masing-masing. Jadi sayalah yang jadi ‘satpam’ di sini,” kata Sagi yang mulai dipercaya mengelola RM SM sejak tahun 90-an.

Sumber :
http://www.majalahpengusaha.com/content/view/498/109/
5 Desember 2007

Pelayanan Sempurna Dalam Bisnis Rumah Makan

"Jiwa Terdalam Dari Para Front Liner Bisnis Rumah Makan Haruslah Didasari Oleh Prinsip Pelayanan Yang Berkarakter Ikhlas, Tulus, Luwes, Berempati, Baik Hati, Jujur, Sopan Santun, Bekerjasama, Penuh Senyum, Serta Bermental Positif Untuk Memahami Orang Lain Dalam Setiap Proses Kerja." - Djajendra

Bisnis rumah makan adalah bisnis yang dianggap oleh banyak orang sebagai bisnis yang paling mudah untuk dilakoni dalam situasi apa pun. Orang selalu memiliki alasan bahwa setiap orang perlu makan, jadi bisnis makanan tidak akan pernah mati. Realitas menunjukkan bahwa bisnis rumah makan adalah salah satu bisnis yang paling mudah untuk dibuka dan juga paling mudah untuk bangkrut. Sering sekali para pemula memulai bisnis rumah makannya karena mereka tergiur oleh untung besar yang dijanjikan oleh bisnis ini. Selain itu, selalu saja orang beranggapan bahwa menjalankan bisnis rumah makan adalah hal yang sangat mudah untuk ditekuni. Padahal ada begitu banyak kebangkrutan dalam bisnis rumah makan, yang pada umumnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan manajemen pelayanan sempurna, manajemen keuangan, dan manajemen risiko. Di mana, hal ini akan mengakibatkan ketidakmampuan si pebisnis rumah makan untuk menjaga kontinuitas dari bisnis rumah makan yang dia jalankan.

Kalau Anda ingin menjalankan bisnis rumah makan, hal terpenting yang harus Anda pahami adalah pelayanan sempurna yang berbasiskan kepada kualitas, harga, dan rasa makanan yang sesuai dengan target pasar Anda. Kemudian, Anda harus mampu memfungsikan semua karyawan, tanpa terkecuali, untuk merawat dan melayani setiap pelanggan secara sempurna dalam balutan sikap baik yang profesional.
Seiring dengan perkembangan teknologi pemerosesan makanan dan teknologi pelayanan pelanggan, maka berkembang pula fungsi dari setiap karyawan untuk lebih mendukung reputasi dan kredibilitas rumah makan.

Salah satu aspek pelayanan sempurna yang harus menjadi perhatian penuh dari Anda dan karyawan adalah aspek kenyamanan, keselamatan dan keamanan dari kualitas makanan yang disajikan. Ingat, pelanggan yang mendapatkan informasi secara rinci tentang kualitas makanan yang Anda sajikan itu akan membuat si pelanggan menjadi loyal terhadap rumah makan Anda. Sikap jujur Anda terhadap gizi dan kualitas makanan, harus diikuti oleh cara pengelolaan yang sehat dan bersih. Setiap kebaikan yang Anda ciptakan buat pelanggan Anda akan menghasilkan keuntungan berlipat buat bisnis rumah makan Anda.

Fungsi front liner rumah makan dalam pelayanan sempurna harus menjadi pelayan yang bijaksana dan baik hati, serta cerdas memainkan perannya sebagai icon rumah makan, yang selalu bersikap baik dalam ramah-tamah pelayanan kepada setiap pelanggan.
Front liner juga wajib bekerja dengan tegar dan efektif dalam setiap situasi yang berbeda, untuk mengatasi berbagai sikap dan perilaku pelanggan yang beragam dan mungkin kadang terasa aneh.

Sikap menyingkirkan ego diri untuk menjadi lebih kooperatif dengan pelanggan adalah wajib hukumnya buat para front liner.
Setiap pribadi front liner harus memiliki keyakinan dan tanggung jawab penuh untuk menyelesaikan sebuah tugas pelayanan pelanggan dengan efektif, produktif, dan efisien
Kecerdasan emosional front liner untuk bisa memahami perasaan dan kebutuhan pelanggan, adalah fondasi terpenting dalam memberikan pelayanan sempurna yang berkualitas.

Jiwa terdalam dari para front liner bisnis rumah makan haruslah didasari oleh prinsip pelayanan yang berkarakter ikhlas, tulus, luwes, berempati, baik hati, jujur, sopan santun, bekerjasama, penuh senyum, serta bermental positif untuk memahami orang lain dalam setiap proses kerja.

Manajemen rumah makan wajib membangun standard pelayanan pelanggan yang sesuai dengan keunikan rumah makan tersebut. Standard pelayanan pelanggan ini seharusnya dapat digunakan untuk mengukur kualitas dan kinerja dari para front liner dan para non front liner rumah makan. Dengan tujuan untuk memahami besarnya produktifitas yang mereka hasilkan sebagai wujud dari kontribusi mereka terhadap bisnis rumah makan. Juga, dengan adanya standard pelayanan pelanggan ini dapat menimbulkan kesadaran beretika dalam melaksanakan pelayanan sempurna, serta dapat menjadi acuan bagi rumah makan dalam melaksanakan manajemen risiko untuk menjaga keamanan, keselamatan, kenyamanan, untuk kepentingan pelanggan dan kepentingan bisnis rumah makan itu sendiri.

Sumber :
http://djajendra.blog.co.uk/2009/05/17/pelayanan-sempurna-dalam-bisnis-rumah-makan-6127392/
17 Mei 2009